...

0 Comments

Dari pucuk dedaunan,

kisah lalu menguak
perihal perempuan bermata pelangi
tubuh yang mulai ringkih
berjubah ketegaran,
melangkah menerobos  hujan.
Luka masa lalu akan memuai bahagia
Melengkungkan sesabit senyum
Penghias keriput wajah tua.
Hujan kan segera merinai di bumimu
Kenakan selendang berhias doa
Menarilah, bu.

Pulanglah

0 Comments
Pulanglah!
Habis sudah langkah
Mengejar bayang-bayang
Kian jauh dalam tiap langkah

Derai air mata tak mampu merayu
Hanya diam mendekap doa
Pulanglah
Karena cinta sudah memuai duka
Karena duka sudah menyemai luka
Sedang  jejak kian berganti

: 4 Januari 2013

Mana Bisa Aku

0 Comments
Mana Bisa Aku

Mana bisa aku menuruti semua keiinginanmu tanpa perdebatan.
Seperti aku menerima semua perintah Tuhanku.
Karena kau dan aku sama-sama manusia.
Mana bisa aku yakin kau akan membuatku bahagia.
Seperti aku selalu bahagia atas semua nikmat Tuhanku.
Karena kau dan aku sama-sama manusia
Mana bisa kita hidup sepanjang masa tanpa pertengkaran dan perdebatan.
Karena kecenderungan untuk menang dari yang lainnya ada di dalam diri kita masing-masing.
Maka terimalah.
Bahwa kita berbeda dan memang tidak untuk menjadi sama, tapi bisa hidup bersama.
Bukan karena aku menurutimu
Bukan karena aku takluk padamu
Tapi karena kau memahamiku pun aku memahamimu
Bahwa ini adalah bahtera untuk berkompromi seumur hidup.
Maka setiap pertengkaran
Setiap perdebatan
Setiap amarah
Setiap kekecewaan...
Perpisahan tak akan pernah menjadi solusi.
Melainkan arena belajar
Untuk tetap bersama
Untuk tetap menerima
Untuk tetap berkompromi dengan lapang dan tenang,
Menuntaskan janji
Menyelesaikan amanat Tuhan.
Jika sudah masanya, nanti, segera.
Medan, 25.03.18
:DAP

Catatan Dosen Sok Pintar : Dicinta Atau Dihujat

0 Comments
Empat tahun berprofesi sebagai Dosen, itu adalah pengalaman yang masih CETEEEEK banget. Dibandingkan ribuan Dosen senior yang sudah belasan bahkan puluhan tahun menekuni profesi ‘mentereng’ ini. Sebagai pemula di Dunia Kampus, saya masih tak habis kagetnya melihat beragam tingkah mahasiswa jaman ‘Now’.
kok?

Iya, karena perbandingannya adalah bagaimana dulu saya menjadi mahasiswa.
Entah apa sebab kondisi seperti ini. Saya juga belum menumkan jawaban yang tepat. Semuanya terasa masih sangat relatif. Kondisi ini bahkan hampir-hampir membuat saya frustasi dan ingin menyerah.
Tapi, tunggu! Saya sadar bahwa saya tak selemah itu.
Pengalaman saya menjadi Dosen yang selalu di Evaluasi setiap semesternya, mendapat kritikan, masukkan, bahkan hujatan di portal Evaluasi dosen itu hal biasa, sekarang. Beda dulu, dimana saya berusaha sekali menjadi pribadi Dosen yang dicintai seluruh mahasiswa. Mahasiswa minta ini, saya kasih. Mahasiswa minta itu saya beri. Mahasiswa inin begini saya ikuti, mahasiswa ingin begitu saya turuti.
Lantas?
Saya lelah!
Hingga kemudian, pemahaman baik itu muncul. Ya, setidaknya pemahaman baik menurut saya sampai detik ini. Bahwa sulit sekali menjadi pribadi Dosen yang dicintai oleh seluruh mahasiswa. Apalagi dengan karakter Generasi Milenial saat ini yang sangat fluktuatif moodnya. Maka saya pernah dijumpai seorang mahasiswa yang pamit mau keluar kelas dan pulang dengan mata bengkak. Saat saya tanya alasannya, dengan santai dia jawab “lagi ada masalah dengan pacar saya, Bu”
Tidak semua mahasiswa menyukai suasana kelas penuh canda. Suatu ketika saya bahkan dapat evaluasi “jangan kebanyakan candanya Bu”. Tak semua mahasiswa juga menyukai suasana kelas yang serius, maka saya juga pernah dapat evaluasi, “jangan terlalu tegang dan tegas, Bu”. Tidak semua mahasiswa itu punya aktivitas tinggi sehingga sering telat masuk kelas, maka saya harus menghargai mereka yang datang tepat waktu. Tapi tidak semua mahasiswa juga bisa datang ontime, maka saya juga harus memberi batas toleransi.
Tapi,
Ternyata itu menyulitkan sekali. Menyesuaikan satu pribadi untuk disukai semua orang.
Hujatan dan pujian silih berganti.
Lantas, saya mulai bersikap.
Maka saya akan bersikap sebagaimana pribadi saya.
Jika ada mahasiswa yang menyebut saya kejam dan terlalu tegang, well itulah Dosen kalian, maka sesuaikanlah diri kalian dengan saya.
Jika ada mahasiswa yang sebut saya tidak pengertian, duh Nak, terus saya siapa yang mengerti?
Memegang matakuliah eksak itu, saya paham pasti berat. Apalagi bagi mahasiswa sosial. Tapi, yang harus dipahami adalah bahwa mata kuliah saya tetap harus kalian jalani.
Jika tidak?
Siap-siap menerima nilai E di KHS kalian, dan mengulang di tahun depan.

Silahkan hujat saya.
Tapi, saya bukan tipe Dosen Baperan, yang mengaitkan perilaku mahasiswa dikelas dengan nilai. Kalian beruntung karena di kampus kalian tidak ada penilaian sikap. Jadi, saya tetap akan memberikan nilai sesuai nilai yang di atas kerta.
Yup, saya memang pelit akan nilai, seperti evaluasi dari beberapa kalian.

Tapi, saya juga mudah sekali menambahkan nilai jika kalian bersikap sopan, santun, menjaga tata krama di kelas. Meskipun kemampuan kalian sekedarnya.
Berat?
Iyalah, tapi saya gak akan mau menanggungnya seperti Dilan yang suka ambil kewajiban orang lain dan membuat orang lain tak bertanggung jawab #ehapasih !
Itu kewajiban kalian, itu yang harus dihadapai, setidaknya selama mata kuliah saya kalian ambil. Maka ikuti bagaimana kelas saya design.
Mudah saja menjadi Dosen yang diinginkan dan dicintai kebanyakan mahasiswa.
Dikelas santai, ujian open book, jaminan dapat nilai minimal B, telat tidak apa, ribut tidak masalah, absen banyak tidak masalah, berlaku tidak sopan dikelas dibiarkan, dan gaya bebas lainnya.
Tapi lagi-lagi, tidak semua mahasiswa menginginkan begitu. Maka bagi mereka yang ingin serius belajar, ingin serius mendapat ilmu, tipe Dosen seperti itu akan dibenci.
Oleh karenanya, anak-anak ku yang cakeeep...cantiiik..sholeh...sholehah....
Bersikaplah sebagaimana manusia dewasa belajar. Mengharga setiap ilmu yang bersumber dari Dosen. Bagaimanapun tidak menyenangkannya Dosen kalian, maka tetaplah hargai. Bagaimanapun menyenangkannya Dosen kalian, bersyukurlah karena kalian tidak perlu usaha keras untuk mencintai mata kuliahnya.
DAP
27.02.18

Mengelola Rasa Kecewa

0 Comments
Mengelola Rasa Kecewa

Saya menggunakan pilihan “merasa kecewa” karena sesungguhnya saya juga tidak yakin bahwa saya benar dibuat kecewa atau emang saya aja yang merasa kecewa.

Tapi, setelah saya pikir, (tuh kan suka mikir yak..) yang benar adalah saya aja yang merasa kecewa, karena harapan yang tinggi akan sesuatu.
Orang bijak, akan memberi nasihat “Maka berharaplah hanya pada Allah, karena Allah tak pernah mengecewakan”
Yups, klise...tapi itu benaaar banget...kita kecewa karena kita berharap pada manusia. Maka jangan lagi.
Tapi ada pemahaman baik yang juga harus diikuti setelah pemahaman bahwa kita hanya boleh berharap kepada Allah. Pemahaman bahwa kita memang tak harus selalu dipenuhi harapannya oleh orang lain.
Saat kita kecewa di khianati, maka terimalah karena orang lain memang tak harus selalu setia kepada kita, karena dia seharusnya selalu setia pada Allah.
Saat kita tak dihargai, maka terimalah karena orang lain memiliki hak untuk lebih prioritas pada orang/sesuatu yang lain
Saat pendapat kita tak didengar, maka terimalah karena telinga orang lain bukan diciptakan hanya untuk mendengar mulut kita.
Memang kita siapa yang harus selalu dijaga hatinya?
Memang kita siapa yang harus selalu dianggap ada?
Memang kita sudah berbuat apa sehingga harus selalu diapresisi kerjanya?

Rasa kecewa itu sesungguhnya kita yang mendefinisikan. Faktanya pula yang harus diterima adalah definisi setiap orang itu tentu berbeda. Kecewa hadir, biasanya karena standar bagaimana seharusnya orang lain terhadap kita, lebih dulu kita tentukan. Kita gak pernah menentukan standar bagaimana seharusnya kita kepada orang lain. Makanya kita deluan merasa kecewa dibandingkan merasa membuat orang kecewa.
Trus kalau sudah kecewa bagaimana donk?
Yaaa nikmatin aja...rasain aja pelan-pelan kecewanya, sambil pelan-pelan bilang sama diri sendiri, “it’s okay, I’m fine.”
Sambil ingat-ingat juga, bahwa itu cuma rasa doang...yang namanya rasa mah bisa berubah...hari ini dikecawain...besok-besok bisa dibuat happy...hari ini dikecawain..besok-besok malah kita yang buat kecewa. Cuma “rasa” yang bisa berubah...pelan-pelan ngerubahnya...
Ingat-ingat...
“emang saya siapa? yang gak boleh dikecewain?”
“emang mereka siapa harus selalu menjaga hati kita?

DAP: Medan, 11.03.2018